Ad Code

Oximeter, Alat Rekomendasi WHO bagi Pasien Positif COVID-19. Apa itu?

Oximeter by: Wikipedia commons

Diniamaya.my.id, Lampung. Sampai saat ini dunia masih dihadapkan dengan pandemi COVID-19. Pandemi yang berasal dari Virus Sars Mers Cov-19 Disease atau yang biasa kita kenal Corona.

Jumlah pasien positif makin hari makin bertambah, bahkan sampai saat artikel ini dibuat ( 1/2/2021), jumlah pasien positif terinfeksi virus corona sampai ke angka 103 juta jiwa di dunia. 

Dengan yang tertinggi di duduki oleh Amerika Serikat sebanyak 26.2 jt kasus, diikuti oleh India (10.8 juta), dan Indonesia berada di urutan 19 dengan kasus (1.08 juta).

Jadi, sudah tidak heran bahwa masalah kesehatan merupakan hal yang sangat di prioritaskan saat ini.

Baca juga : Mengenal Vaksin COVID-19. Apa Efek Samping dan Kandungannya

 Dikutip dari laman resmi WHO ( World Health Organization), masalah kesehatan dapat diketahui melalui perangkat Pulse Oximeter yang dapat mendeteksi secara dini (hypoxia), sebelum kemudian tanda lain diamati, dan dapat mengurangi frekuensi tusukan arteri dan analisis gas darah laboratorium.

Lalu sebenarnya apa itu Pulse Oximeter? Bagaimana cara kerjanya?.

Apa Itu Pulse Oximeter

Pulse Oximeter adalah metode non-invasif melalui saturasi oksigen seseorang. Meskipun pembacaan saturasi oksigen perifer tidak selalu identik dengan pembacaan saturasi oksigen arteri yang lebih diinginkan dari analisis gas darah arteri, keduanya berkorelasi secara cukup baik sehingga dapat dipastikan aman, nyaman, dan non-invasif. Metode oksimetri nadi yang murah berguna untuk mengukur saturasi oksigen dalam penggunaan yang klinis. 

Pulse oximeter biasanya digunakan untuk mendeteksi penyakit seperti anemia, asma, kanker paru-paru, hingga gagal jantung.

Lewat laman resminya, WHO menjelaskan cara kerja dan memberikan panduan cara menggunakan pulse Oximeter ini.

Lalu, bagaimana cara kerja Pulse Oximeter ini? Berikut penjelasannya!

Cara Kerja Pulse Oximeter

Perangkat Pulse Oximeter sendiri menggunakan metode penyerapan cahaya Diferensial untuk menentukan persentase O2(oksigen) yang terikat pada hemoglobin didalam aliran darah.

Contohnya, 2 gelombang cahaya (misal 660nm merah) dengan gelombang cahaya (misal 930nm inframerah) di transmisikan kedalam kulit melalui jaringan diode (komponen aktif dua kutub) pemancar cahaya ( LED ) sensor yang diserap secara berbeda oleh oxyhemoglobin ( HbO2) yang berwarna merah meyerap cahaya inframerah, sedangkan yang berwarna biru deoxyhemoglobin menyerap cahaya merah.

Detektor sensor yang terletak pada alat akan merubah cahaya yang di transmisikan menjadi sinyal listrik yang proporsional dengan absorbansi. Selanjutnya, sinyal tersebut akan di proses oleh mikroprosesor unit, dan akan memperoleh bacaan saturasi. Jika pembacaan diluar batas alarm , maka akan membunyikan alarm secara otomatis.

Bantu saya membangun blog ini dengan cara berdonasi mulai 5000 via gopay, klik disini 

Cara Menggunakan Pulse Oximeter

Oximeter sendiri memiliki dua jenis. Yang pertama dijepit pada jari dan yang kedua di jepit pada telinga. 

You may also like  : manfaat kentang bagi tubuh, ternyata bisa bikin cantik dan ideal

Untuk Oximeter yang dijepit pada jari

  • Pastikan jari dalam keadaan bersih
  • Jari yang di masukkan ke capit Oximeter harus pas, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar, 
  • Posisikan jari dengan tepat. Agar sinar Oximeter dapat bekerja dengan cepat dan tepat.

Untuk ditempatkan pada telinga, pastikan posisi daun telinga pas ditengah dan dicapit oleh Pulse Oximeter.

Beberapa Hal yang Harus di Perhatikan saat Menggunakan Pulse Oximeter

Ada beberapa hal yang wajib dilakukan saat akan menggunakan Pulse Oximeter ini. Diantaranya adalah

1. Hindari Cat Kuku atau Pewarna

Cat kuku sendiri dapat mengganggu kerja Pulse Oximeter ini. Mengapa? Karena, warna cat kuku dapat menyerap cahaya yang dipancarkan oleh pulse oximeter, sehingga dapat mengganggu pendeteksian kadar oksigen dalam darah. Hal ini juga berlaku bagi penggunaan hena dan semacamnya.

2. Hindari Cahaya Berlebih

Cahaya berlebih ternyata dapat mengganggu proses pendeteksian, sehingga hasilnya tidak akurat.

Contoh dari beberapa cahaya berlebih adalah sinar matahari dan sinar operasi yang memancar secara langsung ke arah penggunaan Oximeter ini. 

3. Pergerakan

Setelah Oximeter dipasangakan, baik dijari atau pun ditelinga. Akan lebih baik agar tidak melakukan pergerakan.

Karena pergerakan yang terjadi sedikit saja akan mengganggu keakuratan Oximeter.

4. Perfusi

Apa itu perfusi? Perfusi adalah sirkulasi pergerakan yang membawa oksigen dari alveoli ke jantung. Beberapa Oximeter dapat mendeteksi aliran darah dalam bentuk angka, tak hayal, seharusnya hal tersebut perlu diperhatikan. Terutama saat proses anestesi atau pembiusan.

5. Keracunan Karbon Monoksida

Dalam beberapa kasus, Oximeter menunjukkan hasil yang tidak akurat. Hal itu terjadi karena pasiennya mengalami keracunan karbon monoksida yang disebabkan oleh kebakaran atau terlalu banyak menghirup asap.

Hubungan Antara Pulse Oximeter dengan COVID-19

Banyak yang bertanya kepada saya (penulis). Apa sih hubungan antara pulse oximeter dengan COVID-19? Lalu melalui artikel ini saya akan menjawabnya melalui sumber yang terpercaya.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Oximeter mampu mendeteksi tingkat oksigen didalam darah pada pasiennya. Karena dapat mendeteksi oksigen didalam darah, Oximeter di gadang-gadang menurut beberapa ahli dapat mendeteksi adanya Covid-19. 

Baca juga :Sariawan biasa atau gejala Covid-19? Begini cara membedakan nya

Jika kadar oksigen didalam tubuh seseorang terdeteksi secara rendah. Maka, orang itu dianggap sangat rentan terkena Covid-19.

Tetapi, layaknya alat yang lainnya. Anggapan terhadap Oximeter pun sangat beragam. Salah satu pihak menganggap bahwa Oximeter hanyalah sebagai alat pendeteksi dini Covid-19, sedangkan pihak lainnya menganggap bahwa Oximeter tidak bisa digunakan karena keakuratan nya yang belum pasti.

Lalu, pihak-pihak yang menganggap bahwa Oximeter adalah alat pendeteksi dini Covid-19 ternyata beranggapan bahwa alat itu akan berguna. Terutama bagi penderita Happy Hypoxia. Lalu, sebenarnya apa itu Happy Hypoxia?

Happy Hypoxia adalah keadaan dimana penderita COVID-19 mengalami kekurangan oksigen didalam darahnya, tetapi sang penderita tidak mengalami sesak nafas sedikit pun.

Seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah mengatakan bahwa Oximeter dapat digunakan untuk mendeteksi Covid-19 yang memiliki gejala ringan.

" Seseorang yang mengalami Happy Hypoxia tetap mengalami gejala, namun gejala yang sangat ringan. Bukan tidak bergejala. Mungkin perlu disediakan dirumah bagi mereka yang menderita Covid-19 dan isolasi mandiri dirumah" kata dr Vito Anggarino Damay. Dilansir dari warta antara.

Tetapi, memiliki kadar oksigen yang rendah belum dapat dipastikan seseorang mengalami Covid-19. Namun sebaliknya, tidak menutup kemungkinan bahwa kadar oksigen yang normal lah yang akan tertular virus COVID-19 itu.

Menurut salah seorang ahli pulmonologi di Houston Methodist yang bernama Tim Connolly, tidak semua orang yang mengalami Covid-19 memiliki tingkat kadar oksigen yang rendah.

" Ada orang yang mengalami demam, sesak nafas, hingga gangguan GI dirumah yang menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi tidak menunjukkan kadar oksigen yang rendah " ungkap Tim Connolly.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika anda ingin memiliki Oximeter sendiri dirumah untuk berjaga-jaga.

Namun, jangan pernah bergantung secara penuh dengan alat itu. Jika mengalami kondisi ketidaknyamanan dan merasa terkena gejala Covid-19 harap segera datangi tim medis atau ikuti tes swab.

Pesan singkat: Melalui artikel ini saya menyampaikan jangan lupa jalankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Contohnya menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga informasi yang saya berikan bermanfaat.

Untuk kritik dan saran harap lampirkan di komentar atau bisa hubungi saya melalui email  : adhari1712@gmail.com, Instagram:@adhriirwn_ , atau facebook: Adhari Irawan.

Tetap jaga kesehatan, tetap beraktifitas dan jangan lupa beristirahat. Terimakasih.


Sumber: detik.com, liputan6.com, tirto.id, healthline

Reactions

Post a comment

0 Comments